Ayat-Ayat Cinta just another Fuck’n Sinetron from MD Entertainment

Ayat-Ayat Cinta just another Fuck’n Sinetron from MD Entertainment

sampe ada yang ngomong banyak yang beli tiket untuk ke -2 kali menonton film ini well not becase they like it but they just dont get it hahahag well what can u expect hanung bramantyo yang direct n MD Entertainment yang danain.

Film ini meraih penjualan tiket terbanyak di indonesia untuk awal tahun 2008, tapi seperti kita tahu kebanyakan yang terjual laris di Indonesia ini bukan sesuatu hal yang “seperb, cool, enchanting,” tapi bisa dibilang “lame, and perhaps the guys at southpark put a term as “gay”. Well look around di industri musik kita ada radja, samson, ungu sampai kangen band” kesamaan mereka adalah they sold lots of records although the music isn’t that great, they gives the same shit but Indonesian love shit in fact we beg for more. Film indonesia pun gak beda jauh sama industri musik kita, banyak film baru tapi basiclly they all just the same shit over n over again horor n film cinta tetep merajalela.

Munculnya Ayat-ayat cinta ini memberikan harapan, image yang beda dan nafas baru buat perfilman indonesia. Media massa pun gencar membicarakannya gimana tidak karena film ini berdasarkan novel dengan judul yang sama yang mengangkat tema Islam dalam kompilakasi semerawut dunia ini.

Sub tema yang diangkat pun beragam dari poligami, kerukanan antar agama sampai inti islam yaitu penyerahan diri (ikhlas), namun banyak sekali hal yang tidak sinkron pada penggambaran film yang digembar-gemborkan akan memberikan pengalaman baru ini. yang paling telak adalah iklan Nu green tea when you see it youll know. I mean what was that all about kita mau nonton film not a god damn advertisement and its ok kalo tuh Teh kemasan ada dalam novel kalo gak ada berarti ini udah penghinaan buat kita yang benar2 datang to see the film tapi secara pribadi I’m not so shock about the hole thing karena di direct sama Hanung Bramantyo what can you expect he’s last movie was a downer kalo didirect sama om Nagabonar mungkin lain ceritanya.

Pengambilan gambarpun seakan2 mainin kita sebagai orang Indonesia gimana enggak kta di coba dibohongin akan pengambilan gambar yang dilakukan di arab karena banyak menggunakan tempat tua dan bersejarah di Indonesia dari museum fatahilah dan lawan Sewu semarang, buat kita2 yang suka dan tau tempat2 seperti itu benar2 suatu hal yang bikin apresiasi akan film ini makin berkurang.
Timing pun sangat tidak wajar digambarkan. Ada foto SBY n JK yang notabene berarti digambarkan berlangsung pada saat yang sama dengan kita sekarang. tapi diperlihatkan mesir keadaannya seperti 10 sampai 20 tahun yang lalu Hallo mesir itu negara kaya mereka sudah pake baju dari emas pas zaman nabi Musa nah Indonesia boro2 masih belom jelas dan Nomaden hidupnya. Masa ruangan penjara dimesir digambarkan segitu buruknya bila digambarkan berlangsung pada saat ini, n ruang pengadilan yang kuno abis kaya film India di TV2, well mo gimana lagi yang punya duit buat nih Film Mafia2 India itu yang notabene monopoli hampir semua lame Film i indonesia :) , Seharusnya sang director konsisten sama waktu dong kalo mo gambarin mesir keadaan tahun berapa kalo mo samain sama buku atau versi nya dengan keadaan sekarang. Seperti keadaan Al Azhar masa cuma segitu aja n gambaran lingkungan hidup mesir pada saat ini yang kumuh. karena seperti logika tadi mereka itu negara yang lebih advance and kaya dari kita. Jangan sampe orang mesir nuntut kita akan penggambaran yang tidak realistis akan negara mereka.

well enough dari segi Film nya sekarang kita bahas dari ceritanya kao kita lihat2 cermati secara dalam yang paling janggal adalah pemeran utama yang notabene mahasiswa Al-Azhar tidak bisa menyikapi dengan baik ilmu agama yang dipunyainya pada kehidupannya sendiri untung dia mendapat Aisyah Istri yang benar2 super saint, perfect yang membantu dia dalam memahami dan menerapkan Islam dalam hidupnya. tapi kalo dipikir 2 itu yang menjadi pertanayaan dimana karakter ini cenderung seperti sebuah halayan aja dimana ada seorang wanita kaya raya, cantik, mempunyai tingkat ilmu agama yang tinggi, dan muslimah yang sebaik-baiknya. Sang Arjuna Fahri pun ternyata tidak lebih unggul dalam pemahaman agamanya dengan teman se sel nya di penjara karena dia yang memberi masukan dalam menghadapi kehidupanya, padahal tidak digambarkan kalu teman se selnya ini taat agama karena saat fahri sholat dia tidak sholat dan tidak oernah diperlihatkan pernah sholat. Dan untuk seseorang yang mengerti agama dan mempelajarinya dengan baik di Al-Azhar juga menjadi idaman para wanita piawai berdebat akan agama tetapi Fahri digambarkan masih saja menyuruh istrinya dengan membentak panggil suster padahal istrinya sedang hamil tapi karena memang karakter Aisah disini ditinggikan jadi dia tidak merasa beban untuk itu tapi utnuk kita2 yang nonton menjadi pertanyaan apakah benar tindakan seperti itu dilakukan oleh seorang Fahri apa kesalahan direktor yang gak bisa ngasih pemahaman yang tepat akan karakter Fahri.

Well selamat menikmatinya sendiri dan mengkritisi Film ini seluas harapan dan imajinasi Anda karena Film Indonesia gak adakan maju apabila tidak ada masukan yang berarti dari kita para penontonnya.
just a thought

mungkin biar ada perubahan mafia2 itu harus di saingi dengan any means neccesary seperti government ngasih dana buat film maker yang bisa baut film-film berkualitas dan mendidik juga mengena (walupun kita tau pemerintah kita sucks bisanya korupsi aja boro2 mau bagi2 dana hahaha) and yang terpenting Masukan dan kritisi dari kita semua.

Published in:  on April 9, 2008 at 1:40 am Comments (12)

The URI to TrackBack this entry is: http://alamprabu.wordpress.com/2008/04/09/ayat-ayat-cinta-just-another-fuckn-sinetron-from-md-entertainment/trackback/

RSS feed for comments on this post.

12 Comments Leave a comment.

  1. wah..gw agree bgt ma komen lu soal AAC. Jujur, blm pernah ‘nonton’ pilm nya dgn penuh hidmat.. my bro da donlod dr inet, trus diputer lah saat kita maen uno, tapi, tak sedikitpun kami tertarik bwt ntn. soalnya, SINETRON BAANGGGEETTT..n we hate sinetron sooo muchh…bikin bodoh bangsa ini ajah…huuuu
    truss..temen gw perna misuh2 di bioskop, pas lagi ntn, soalnya dia ga tahan pgn kluar..tp temennya bilang sayang da byr tiketnya..hahaha…
    yaaa..what can i say, mo nyamain atuuu ajah pilm nya hollywood? whoo…kapan yaaa….

  2. wooo iyaa…
    mo komen soal blog lu ini…ok sii…slamat2 atas launching nya yak!!!
    Jgn perna males bwt apdet2 and bagi2 crita disini…

    ^_^ V

  3. I’m not in a very good condition and this reading is making it even worse. You are right. I’m not a good moslem..(yet).. ;p

    PS: Can’t help not to agree with every single thing u said and wrote. Keep it up!

  4. waduh salah lagi masuk nih komen sepertinya ngomongin tentang Film Fitna ya

    tapi catatan buat vini

    semua orang yang berani mnyebut dirinya “not a good moslem..(yet).. ;p” that means “they already a better muslim” ;p

  5. Well…buat yang nonton film tapi gak membaca novel, mungkin akan komentar kalo film itu bagus banget. Menrut gw si, nilai islam yang digambarkan di film jadi gak seagung yang digambarkan di novel…gak puas aja nontonnya. Kira2 si penulis gak mencak2 apa ya…ceritanya jadi digambarkan kayak gitu?
    Soal ada minuman nu di tengah gurun pasir…! ha..ha..tu mang gak banget…Tapi ya, sudah la lam..terlalu banyak yang perlu kita benahi di dunia ini…Mending kita mulai aja dari diri kita sendiri..ya gak…….?
    Ambil positifny, buang negatifnya….dan kita coba aja, apa yang bisa lakukan dengan tangan kita………….

  6. untung gw nontonnya gratisan, maklum dooong… wartawan! heheheh ;P

    gw sih sejujurnya ngga sgitu “terganggu” pas nontonnya
    mungkin krn gw sering nonton pelem indonesia yg sama ato malah lbh jelek dr itu kali yah? hhihihi.. cthny niiihh ada pelem berjudul Musik Hati yang pemainnya bner2 ngga niat maen pelem, even pemain drama tvri jaman dulu aktingnya lbh bagus kali, parah bgt: FLAT TOTAL! ceritanya standar, trus beberapa potongan adegannya ngaco (salah properti, beda sudut pengambilan, dst). pokonya kacau deh!

    kembali ke film AAC.. gw msh sedikit terhibur ngliat pemain2nya yg lmy seger kya rianti, carissa, oka antara dan fedi nuril..
    “gangguan” terbesar buat gw, yap, sptnya yg udh lo bilang lam: iklan NU GREEN TEA itu.. hahahhaha…
    oyah satu lagi, kacamata fedi nuril yg membuat perannya sbg cowok islam nan alim seketika tampak seperti playboy cap kakap (what the?!@#$^#@?)

    well, mudah2an aja indonesia bs bikin pelem yg lbh bermutu, dan please deehh.. ngga usah ikut2an tren.. klo lg pelem remaja semua bikin yg sama, skrg jamannya komedi seksual dan reliji, smuanya ikutan.. ggrrrggghh!!

  7. hmm jadi ingat pembicaraan kita di waktu di toko musiknya Dipan (pas lg nunggu nasi goreng) Minority or majority rules? dalam hal ini mungkin 22 nya yang rule, para mafia India itu berhasil menyihir banyak orang dengan Sinetron berlangganannya (bayar Maksudnya) dan masyarakat juga memperkuat eksistensi para ram atw punjab atw whateverbersaudara itu dengan berbondong2nya mereka ke bioskop.
    for me itu sah-sah aja, toh kita punya pilihan untuk suka / tidak suka, gw jadi mulai berpikir jangan2 film ini diciptakan supaya elo lebih kretif Lam, gimana kalo kita buat film yang gak Fuckn sinetron, you’ll be the director, i’ll be the star :) gimane? kkkkkkk
    anyway soal film bermutu atau tidak, gw rasa itu bisa di discuss lagi, satu film yang gak mutu bisa jadi buat lainnya mutu banget, begitupun sebaliknya
    hmmm kayanya gw dah kebanyakan gumoh ni….”

    thx
    Firzi (Humas UI 99) sie seni dan kretifitas

  8. haha, sejujurnya emang sinetron banget. agak sulit menemukan cerita yang disukai semua kalangan. tapi seenggaknya masih jauh lebih bagus daripada sinetron-sinetron yang lebay parah itu lah. masih ada “meaning” di balik ceritanya. masih ada hikmahnya.

  9. well, memang sinetron
    Saya sudah baca novelnya. kisahnya memang bisa dibilang cukup ‘lurus’ dengan menjual bentuk drama yg bisa dikatakan cukup usang karena sudah dipakai di banyak fiksi, baik dlm bentuk tulisan maupun audio visual
    well, saya nggak akan bilang film ini buruk karena paling nggak film ini bisa ngasih warna lain setelah kepenatan kita akan film horror yg ga ada juntrungannya. Namun saya nggak bisa bilang kalau ini film favorit saya. Yang namanya selera memang sangat subjektif, dan saya mungkin lebih “tersentuh” setelah menonton ‘Gie’, ‘3 Hari untuk Selamanya’ atau ‘Perempuan punya Cerita’

  10. gara2 booming film AAC, skrg ada sinteron mitip sama AAC dong.hiahiahai…percintaan2 islami gitu..duh gusti..kapan ya sinetron kita bisa edukatif?

  11. Sebagai orang awam, I hate to say this to you guys but I watched this movie twice and I LOVE IT SOO MUCHHHH, gak papa kan ada keanekaragaman pendapat. Gw gak bs berdebat , tapi jujur klo masyarakat umum gak suka kenapa banyak produser berlomba2 mengadaptasi jenis cerita yang setipe kayak gini ke layar lebar. I dunno..just my opinion though…feel free to express your thoughts but also respect others

  12. HAhaha its ok Sofi thank u for the opinion.. you are most welcome

    Sofi ” Gw gak bs berdebat , tapi jujur klo masyarakat umum gak suka kenapa banyak produser berlomba2 mengadaptasi jenis cerita yang setipe kayak gini ke layar lebar”

    iya itu yang jadi masalah sebetulnya sof.. masyarakat banyak yang suka dan biasa sutradara n produser kita jadi latah saemua hahaha mdah2an mereka bisa lebih anggun dalam membuat film2 yang ok kedepan dan bukan cuma sebuah euforia semu ikut2-an aja


Leave a Comment