“Sehat itu mahal” pernah bertanya dari mana “frase” atau ungkapan ini berasal? Dan siapa yang berani menanamkannya di lebih dari 200 juta kepala di Indonesia? sehingga sebuah menjadi hal yang lumrah kalo orang indonesia sakit siap-siap biaya mahal. Why can’t Sehat itu murah atau bahkan gak ngeluarin biaya sama sekali. Beberapa bilang itu gak mungkin “Mimpi” gila apa loe masa sakit gratis? Jawabannya kenapa emang loe enggak gak mau sistem kesehatan gratis. Gua yang gila apa loe yang gak waras hmm … Well satu yang pasti gak ada yang gak mungkin didunia ini, karena itulah salah satu tanda-tanda kebesaran Tuhan dimana “kemungkinan/probability” “perubahan/changes” adalah hal yang pasti. Tapi ternyata walaupun dengan semua kemungkinan yang ada dan diberikan banyak sekali “Kita” yang membatasi pandangan dan mimpinya seperti perkataan tadi “Beberapa bilang itu gak mungkin mimpi, gila apa loe” pernah bertanya apa mereka bilang begitu gara-gara frase tadi yang sudah tertanam diotak nya sehingga membatasi keinginan, pandangan dan mimpinya yang otomatis menutup kemungkinan-kemungkinan yang ada. Atau sederhana saja karena ada keuntungan dibaliknya.
Nilai-nilai yang sudah tertanam tadi seakan-akan Dogma dikepala mereka dan sudah menjadi hal yang gak bisa diubah. Pastinya itu bukan Dogma karena gak ada satu pun tertulis di kitab suci manapun kalo sehat itu mahal. Tapi satu yang pasti siapapun yang menanamkan nilai tersebut sudah berhasil membodohi dan berhasil mengkondisikan kalau sehat itu mahal, dan dibalik semua ini siapa yan lebih diuntungkan dari semua itu. hmm siapa yang diuntungkan dari sehat itu mahal… hallo…. ya tentu saja para korporasi, dan para elite yang dapet kompensasi dari aturan tersebut, tapi rakyat, masyarakat kecil, have they ever think about them ?
Dalam sebuah film yang baru-baru ini saya tonton seorang teman berkata pada sehabatnya kalau “You don’t take shit form no body” dan itu seharusnya karakter yang kita punya sebagai manusia yang diberi kebebasan berpikir, memilih, dan bertindak. Kita berani bertanya bahkan pada situasi yang seakan-akan tidak bisa diubah, seperti ungkapan di awal tadi yang merupakan satu dari banyak hal yang kita terima begitu saja dalam hidup kita sebagai warga negara yang bernama Indonesia.
Pemerintahan itu dibentuk untuk mensejahterakan masyarakat yang berada dalam naungan kekuasaannya tersebut, not the other way around. Coba kita lihat kesejahteraan apa yang telah diberikan pemerintahan RI selama ini . Let see transportasi, bahan bakar naik terus belum pernah tercatat dalam sejarah harga BBM turun. Pendidikan well katanya SPP dihapus, tapi itu tidak menyetop bayaran yang lain dari uang pagar, gedung, kebersihan belum lagi buku-buku pelajaran dan banyak lagi hal lain yang bisa ditambahkan dan kalau perlu dibuat untuk meng-cover pengeluaran. Sad isn’t it,
So… kalau kita dulu dengar satu perkataan orang besar seperti “Jangan tanya apa yang telah negara lakukan untukmu tapi apa yang telah kau lakukan untuk Negara” perkataan ini tentu sangat terdengar pariotik dan di satu sisi itulah memang pesan yang ingin di tanamkan, tapi ada lagi yang tujuan yang terpenting di baliknya yaitu dukungan untuk kekuasaan yang berkuasa hal ini mungkin lumrah saja kalau ada timbal balik yang diberikan oleh penguasa dan rakyat. Tapi apakah relevan di negara kita ini? Karena penguasa disini cuma bisa menghabiskan anggaran di program-program yang tidak menjawab permasalahan dan program tersebut harus ada cross kepentingan dengan dirinya secara pribadi, partai dan golongan. Tiba saatnya untuk rakyat indonesia Kritis dalam melihat permainan para pemimpin negaranya, tak peduli siapa yang dia wakili pribadi golongan maupun partai, dan jangan lagi menjadi fanatik terhadap individu, partai, ataupun golongan karena dengan begitu kita hanya akan menjadi kendaraan kepentingan politik kekuasaan mereka.
Tidak ada yang salah untuk bersikap patriotik dan memberikan dedikasi yang besar pada negara, tapi kalau sikap patriotik dan dedikasi rakyat tersebut hanya digunakan oleh elite utuk mempertahankan kekuasaanya buat APA? Seharusnya dengan memberi dedikasi yang besar dan sikap patriotik, masyarakat sadar yaitu mereka mempuyai hak yang lebih besar akan pemenuhan kebutuhan dan kepentingannya, bukan malah mensejahterakan para elite nya saja dan leave them behind ? But halo … thats what happen.
Setiap Pemilu which we so called “Pesta Demokrasi rakyat ini” sebetulnya bukan pesta demokrasi tapi pesta pembodohan rakyat dengan program-program penanaman kebutuhan rakyat akan para elite tersebut, dengan semua janji-janji basi yang sama setiap 5 tahun sekali yaitu “For the people”. Well I say Fuck that.
Kalau memang Pemilu itu Pesta demokrasi seharusnya Pemilu itu pesta dimana rakyat bisa mengkspresikan keinginannya, bahkan minta seenaknya sama partai-partai yang berani menjual dirinya buat masyarakat tersebut, so bukan para elite yang berorasi dan para pengikut cuma denger n joget-joget disuguhin para “entertainment whore lokal asli sini“. Udah gak jamannya gitu. Seharusnya pemilu itu para elite itu mendengar what people have to say and bargain whether they can full fill it for them or not.
Rakyat di setiap pemilu seharusnya punya kebebesan untuk ngomong apapun yang dia mau di depan para elitenya dan tawar menawar apakah tuntutannya itu bisa dipenuhi atau tidak sama tuh elite bukan begitu? Bukan cuma dengerin tuh elite ngomong n abis itu joget dan muter-muter show off dijalanan, come on that was so yesterday.
Tapi semua ini hanya sekedar mimpi kalo rakyat nya masih mau saja dibodohi dan mungkin memang senang atau sengaja mau dibodohi hanya karena fanatisme dan perasaan patriotik tadi ditambah komisi. “Oh come on” Semua itu hanya sesaat aja liat begitu terpilih penguasa baru baik elite legislatif n eksekutif see any changes? Yes emang ada perubahan tapi bukan ke better tapi worst. Let see pendidikan apa makin murah jawabannya … NOT, Kesehatan apa masih barang yang mahal hmm let see koreksi bukan hanya masih tapi tambah makin mahal lagi. So come on apa kita gak bosen dibohongin terus? apa kita gak bosen di janji-janjiin aja? Atau emang Kita nya yang gak berani bertanya dan memperjuangkan keinginan Kita n just go with the flow. One thing for sure Para “fucking elite” ini tak akan berhenti memanfaatkan rakyat sampai rakyat berani not only to say STOP and just simply said fuck them, tapi berjuang untuk itu that’s what call true PATRIOT.
Seharusnya kita bertanya, kritis, dan bisa mencerna mana yang benar-benar mau memperjuangkan kesejahteraan rakyat, bukan hanya mengobar janji yang dibalut “Rasa Patriotik” tadi. Tapi mungkin satu kelemahan bangsa indonesia adalah sikap kritisme itu sendiri.
Budaya yang lebih tertanam adalah Budaya “Ikut-ikutan” bukan budaya kritis yang diharapkan tadi. Semua ikut-ikutan Media massa dengan program yang sama, Bioskop dengan Genre yang sama, sampe yang membuat sedih secara pribadi adalah dunia musik tak hanya dengan genre yang sama tapi attitude dan sound yang benar-benar tidak menggambarkan seorang seniman.
Karena budaya ikut-ikutan ini, pemahaman-pemahamn yang keliru selama ini menjadi suatu hal yang biasa dan diterima. Kita semua terbiasa menerima begitu saja kondisi yang tidak menguntungkan dan mencari pembenaran untuk lari dari situasi tersebut.
Kembali ke “Kesehatan” yang merupakan kebutuhan dasar setiap manusia dan salah satu standar kesejahteraan rakyat sehingga dengan terpenuhinya kebutuhan akan kesehatan tersebut sebagai salah satu tolak ukur keberhasilan program-program yang katanya untuk mensejahterakan rakyat.
Satu pertanyaan yang mendasar dari semua yang kita telah bicarakan tadi adalah kenapa sih sehat itu mahal ? Memangnya kita tidak punya pemerintahan yang kita percayakan untuk mensejahterakan kita, well jawabannya We do have a government kita punya sebuah pemerintahan yang disebut-sebut penganut demokrasi, tapi mensejahterakan kita sebagai rakyatnya tunggu dulu.
Guru-guruku di sekolah selalu menanamkan bahwa pemerintahan kita menganut demokrasi pancasila yang artinya “dari rakyat ke rakyat untuk rakyat” saat itu saya cuma bisa berkata “Wow hebat dan mulia sekali pemerintahan yang didirikan di Negara Kepulauan ini”. Tapi waktu berjalan dan saya mulai mempertanyakan lagi “Who are you kidding with. It’s a Joke but it’s not funny and it Hurts lot of people who believed it. Sungguh ini sama sekali bukan dari rakyat ke rakyat untuk rakyat. Dan pemerintahan yang punya pemikiran yang masih rasional pasti malu untuk mengatakan hal ini karena pemerintahan yang kita punya sama jauh sekali dari ide utopia yang indah tadi.
Tujuan dibentuknya pemerintahan yang biasa kita rayakan dengan kampanye partai dalam euphoria demokrasi yang kebanyakan cuma ikut-ikutan, terlihat bodoh dan kurang kerjaan itu memang untuk mensejehaterakan rakyat. Tapi setelah terbentuknya pemerintahan, banyak hal yang tidak sejalan dalam kesejahteraan rakyat malah tumbuh subur. Salah satunya kesehatan yang mahal kenapa pemerintah tidak mau memperjuangkan kesehatan kita. Saya berani bertaruh alasan mereka pasti terdengar rasional dengan memberikan gambaran segala macam hambatan yang ada, tapi memangnya kenapa kita memilih mereka untuk menjalankan pemerintahan, ya tentu saja untuk memperjuangkan kesejahteraan kita yang salah satunya kesehatan tersebut.
Kalau tidak bisa be a man for God sake akui ketidakmanpuan dan turun kalau perlu demi kesejahteraan kami, dan jangan kasih kami alasan-alasan yang digunakan untuk membenarkan ketidakmampuan dalam memperjuangkan kesejahteraan kami sebagai rakyat. Emangnya kalian itu dipilih untuk apa ? Ya tentu saja untuk mensejahterakan rakyat kalo gak bisa ya turun. Yang menyedihkan malah ikut-ikutan memberi tangisan seperti kasus lumpur sidoarjo ironis sekali Presiden cuma bisa ikutan nangis, bukanya memberikan solusi pasti untuk situasi itu, sungguh peimimpin yang tidak tahu malu sampai ada pengungsi yang mengatakan “Kami sudah kehabisan air mata”. Kok bisa-bisanya pemimpin yang dipilih malah nangis seakan-akan ikut berempati padahal para pengungsi gak butuh tangis lagi yang merka butuh solusi pasti untuk memperbaiki hidup mereka.
Sampai kapan Rakyat Indonesia di jajah bangsanya sendiri ? sampai kapan rakyat indonesia akan selalu memilih “wakil-wakil” yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri dan partai ? Sampai kapan rakyat mau dibohongi ? Sampai kapan rakyat akan berani bersikap kritis tidak hanya pada lingkungan, Media, Negara tapi yang terpenting dirinya sendiri, karena sebetulnya kebanyakan dari kita tidak mau, mungkin acuh atau sudah patah semangat kalah sebelum perang. Sebelum majority individu indonesia stand up for them selves Kita akan selalu menjadi bangsa yang terjajah sadly bukan oleh bangsa lain tapi oleh segelintir orang so called elite karena mereka mendapat dukungan dari kita-kita ini.
hmmmm….ini Thesis lo Djay….bacanya smp kriep2 mate gw, kayanya agak2 personal buat lo ya? oke deh gw tanggepin…siapa takut
)
inget Bang Oji pernah bilang “Word’s dont mean, People mean” artinya kurang lebih, apalah arti dari kata-kata, yang penting adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang2 yang bersangkutan, enggak ada yang salah dengan Demokrasi Pancasila (menurut gw) yang masalah adalah orang-orang yang melaksanakannya.gw gak akan bahas mengenai 32 th kepemimpinan Cing Ato, karena menurut gw saat ini kita di bodohi dan di kondisikan untuk terbelenggu, kalau berani menyuarakan sedikit aspirasi nyawa taruhannya.
setelah reformasi sebenarnya bangsa kita punya kesempatan untuk menentukan sendiri orang2 yang di anggap mampu untuk mengelola bangsa ini (termasuk mensejahterakan) cuma sayang mayoritas bangsa kita masih belum dapa berpikir lojik, selain karena pembodohan yang dilakukan oleh Orba, kebanyakan dari bangsa ini juga masih terjebak pada ketokohan, kuiltus individu dan mitos-mitos tertentu yang menempel pada orang2 tertentu yang kalo menurut gw…Cepe deeeeee…hari gini gitu.
seringnya ini di gunakan oleh partai untuk mengambil keuntungan, disamping tentunya ada kecendrungan money politik yang kuat untuk mensupportnya.
beberapa bulan terakhir gw tertarik memperhatikan (terutama dalam pilkada) yang biasanya di dominasi oleh partai2 lama yang sudah mapan baik dari sisi keuangan ataupun pengkaderan, sekarang malah sebaliknya, justru pemenangnya adalah calon yang disusung partai yang suaranya di DPR boleh dikatakan kecil (gw gak perlu sebut namanya ye
waktu pasangan HADE menang di pilkada Jabar awalnya gw pikir ini cuma faktor DY yang mantan artis itu lo, namun pilkada selanjutnya di Sumut ternyata pemenangnya (SAMPURNO) di calonkan dari salah satu partai yang sama yang menang pilkada di Jabar. memang hal itu tdk menjamin kalau calon yang terpilihpun sanggup menyelesaikan masalah yang super rumit ini dengan cepat, namun yang patut di perhatikan disini adalah sudah mulai ada perbuhan paradigma di masyarakat mengenai pemimpin yang mereka inginkan, tampaknya mereka sudah mulai muak dengan wajah2 lama (atau wajah baru tapi dengan kemasan yang lama) yang selama ini memimpin toh hasilnya gitu2 aja…. so jangan jadi orang bodoh, jgn banyak mengeluh dan jangan banyak menyalahkan, pemilu sekarang kita yang menentukan ingin dipimpin siapa, kalau sudah memilih dan dipimpin terus enggak puas ya jgn maen kudeta dong toh ini kan salah kita juga sebagai voters, ada baiknya kita hukum mereka di pemilu berikutnya dengan tidak memilih mereka lagi….
thx
Hahaha its not a fuck’n thesis bro
oh ya itu bukan perkataan Bang Ojie kali tapi beliau mengkutip “Meaning is not in Words but in People” Which is the basic foundation in communication yaitu Empati.
and tulisan diatas gak bilang kalo demokrasi pancasila itu salah, dan ini adalah salah satu bukti kalo meaning is not in words tapi di orang, dimana pemberian makna seorang virgi tidak sama dengan yang tertulis (off course with all the miss spelling atau kalimat ambigu i don’t blame u dude) hhaha sorry.
But in the end we agree kalo seiring dengan proses pendewasaan demokrasi di Negeri ini alangkah baik nya bila diiringi dengan kedewasaan rakyat nya dalam menyikapi, bertindak, memilih dengan lebih logis dan lebih kristis.
True Bro, it’s quote and quote, tp karena gw lupa doi ngutip dari siape (maklum bukan mahasiswa yang rajin menyimak
) that’s why gw bilang Ban oji said not quote.
soal demokrasi pancasila, gw hanya ingin share kalau seiring perkembangan reformasi banyak pihak yang mulai meragukan apa manfaat dari demokrasi pancasila, bahkan mereka mengatakan bahwa ini tidak lebih baik dari demokrasi terpimpin “which is for me it’s Ridiculous” banyak negara yang mengagumi demokrasi ini (sorry sekali lg gw lupa apa aja negaranya) karena di dalamnya terkandung religi, humanity, unity, freedom of speech and justice for all mereka mengatakannya sebagai five way of live… hmmm dahsyat…hidup Indonesia..hidup SO7..hidup Persib!!
*kedewasaan rakyat nya dalam menyikapi, bertindak, memilih dengan lebih logis dan lebih kristis.*by alamprabu
Setuju bgt loh gue. Udah lah emang pemerintah kita udah ngaco,mau nyalahin juga gimana da udah kebal gitu. dari dulu juga banyak bgt yg protes pemerintah ini pemerintah itu. tapi tetep aja gini2 juga.pusing juga kali dia mikirin masalah bnyak bgt.
coba kenapa ga benerin dr kitanya aja? dr rakyatnya? jangan terlalu memojokan pemerintah…itu konglomerat2 yg asik2 sendiri bangun2 mall, kenapa ga bangun sd murah. bangun apa kek selain mall buat indonesia. bangun rumah susun murah meriah buat warga yg tinggal di bantaran ciliwung. kan lumayan bisa berisihin ciliwung biar gak banjir2 jakartanya. Trus yg bangun real estate di pantai indah kapuk, mbok sadar dong itu satu2nya daerah resapan paling efisien di jakarta.
emang rakyatnya juga mesti sadar kalo kelakuannya kadang2 keluar batas. mungkin contohnya bribery. udah tau di negara kita sogok menyogok gampang banget, ya coba berhenti hidup instan. Coba ikutin birokrasi yang ada. jangan mentang2 punya posisi spesial trus birokrasinya juga spesial..
anyway, maap itu komennya kepanjangan, padahal belom misi2 kenalan.hehe. nice writings! cheers
You are most welcome Superyayi >)
dari sini gw pengen nambahin sedikit dengan potongan lagu Bob Marley..
“..eamnsipate your self from mental slavery, non but your self can free our mind…”
tulisan elu juga menjadi ganjalan yg lama gw pertanyakan di benak gw yang mana sempat bikin gw mengatakan…
“apa memang benar yang gw bayangkan hanya utopia sejati?”