Irony, Konsekuensi Demokrasi, dan kesiapan Indonesia. (Studi FPI dan Ahmadiyah)

Demokrasi pada dasarnya adalah kebebasan dan penerimaan terhadap segala perbedaan yang ada. Nilai ini lah yang selalu di gaung kan oleh western world lewat yang kita kenal sebagai “Hak azazi manusia” yang pada setiap pesan kunci sosialisasinya Ide tersebut (HAM)  patut di junjung tinggi oleh setiap manusia dan terlebih negara yang menerapkan sistem Demokrasi ini.

Dibalik nilai yang terkesan baik dan ideal ini tersimpan irony bagi mereka yang memahaminya karena konsep kebebasan tersebut pada dasarnya memberikan kebebasan manusia dalam berfikir, memahami, dan bertindak. Dimana implementasinya mungkin akan mengalami crash atau konflik dengan apa yang disebut agama itu sendiri.

Akhir-akhir ini dan kedepannya Indonesia dituntut baik langsung ataupun tidak untuk menentukan pandanganya terhadap hal itu, dan dibutuhkan awareness tidak hanya pemerintah dan akademisi saja tapi juga seluruh Warga Negara Indonesia untuk menyikapi Demokrasi ini. Mengapa begitu? kita lihat saja mulai maraknya sekarang perbedaan-perbedan yang diekspose dari culture, Ras, sampai yang paling sensitif Agama. Karena Demokrasi pada dasarnya memberikan kebebasan setiap orang yang bernaung didalamnya, pemerintah pun mempunyai kewajiban untuk melindungi perbedaan tersebut. Seperti kejadian Monas baru-baru ini merupakan salah satu crash / konflik yang disebabkan oleh Idealisme Demokrasi itu sendiri. Dimana Pemerintah mempunyai kewajiban untuk melindungi mereka yang dianggap sebagai korban tragedi tersebut dan di sisi lain mereka yang merasa terusik Agamanya merasa tidak ada kepastian dari pemerintah untuk perlindungan agamanya tersebut. 

Ahmadiyah dan kebebasan beragama ini pada dasarnya mengetahui loophole (titik kesempatan) dalam demokrasi dimana mereka dapat memperjuangkan aspirasi, pandangan, dan keyakinan mereka untuk diakui oleh pemerintah Indonesia. Di sisi lain FPI dan MUI telah menetapkan kalau mereka itu bukan bagian dari Islam sehingga pada dasarnya mereka fine-fine saja apabila Ahmadiyah tidak menyangkut pautkan ajaran Islam dalam ajaran mereka dan mereka berdiri sendiri sebagai agama baru tanpa memberi embel-embel menyertakan ajaran Islam didalamnya. Kalau dipandang dari segi Demokrasi tidak ada yang salah dalam tuntutan Ahmadiyah untuk diakui keberadaannya di Indonesia. Tapi dari segi Agama Islam itu adalah penodaan terhadap Agama yang buat para Muslim adalah agama yang diridhoi Tuhan Yang Maha Satu sampai akhir zaman. 

Islam dalam perkembanganya memang memiliki perbedaan-perbedaan pandangan namum dalam perbedaan pandangan itu tidak melewati garis Akidah  dalam ajaran islam yaitu 2 Kalimat Sahadat dimana hanya diakui “There is One and Only God “Allah” and Mohammad is the Messenger of God” jadi perbedaan tersebut tidak melewati garis yang ditetapkan terebut dimana Hanya ada Satu Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatunya dan Muhamad SAW  adalah Rasulnya. Ahmadiyah dalam ajarannya memberikan tambahan bahwa ada nabi setiap generasi dan bisa di bilang sebagai nabi bayangan sebelum turunnya Mahdi yang dijanjikan. Ajaran Ahmadiyah yang berasal dari India tersebut kini sudah tersebar luas dan Pusatnya sekarang ada di United Kingdom wow sebesar itu kah penyebaran Ahmadiyah.Sang pendiri Ahmadiyah pun mengatakan dirinya adalah keturunan dari Ali Bin abi Thalib, dan dirinya adalah Mahdi yang dijanjikan. 

Sebagai Muslim mungkin ada baiknya untuk menyikapi ini dengan rasionalitas yang tinggi  sebagaimana Al-quran dan Sunnah Rasul yang berbanding lurus dengan rasio dan ilmu pengetahuan. Sebagaimana Kita tahu Ali Bin Abi Thalib adalah keponakan dan sekaligus mantu rasul yang dinikahkan kepada Putri Kesayangannya Fatima Ra. Beliau pun dikenal sebagai khalifah ke-4 bagi Aliran Sunni dan Imam 1 dari Syiah or Shia. Kedudukan Imam Ali Sangat tinggi di Sisi Rasul seperti yang disebutkan dalam salah satu  Hadist yang tercatat Sahih Muslim dimana “Sesungguh nya Ali Di sisiku seperi Harun AS disisi Musa AS. tapi tidak ada nabi setelahku”. dan satu lagi Hadist yang menunjukkan ketinggian kedudukan Imam Ali adalah “Aku ini Kota Pengetahuan dan Ali adalah Gerbangnya” Inilah mengapa Islam terbagi menjadi 2 pandangan besar yaitu Sunni dan shia dimana Shia menganggap kalau Imam Ali dan keterunannya adalah penerus yang ditetapkan oleh Nabi dengan sebutan sebagai “Ahlul bait (keluarga nabi)” bukan ke-3 khalifah yang lain. Dan Sunni menganggap Ali adalah Khalifah ke-4 sesuai dengan musyawarah pada saat itu. Konsep Mahdi pun hanya dipercayai pada kalangan Shia saja karena Mahdi yang dijanjikan adalah Imam ke-12 dari keturunan Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Ra yang akan menunjukkan diri di Akhir Zaman. Kalangan Sunni menolak konsep Mahdi ini walaupun banyak juga yang mempercayai akan konsep tersebut dikalangan Sunni. Iran sebagai negara Islam dengan pandangan Shia mempercayai hal tersebut sampai pada hampir pada setiap pidatonya Sang Presiden Mahmoud Ahmadinejad selalu berkata mempersiapan Iran sebai negara yang kuat untuk mendukung perjuangan Imam ke-12 Shia itu pada saat kemunculanya.

Pendiri Ahmadiyah disisi lain mengaku sebagai keturunan Imam 1 Shia tersebut tapi mengusung ajaran adanya nabi baru padahal Imam Ali yang mempunyai kedudukan tinggi disisi nabi sebagai penggantinya seperti posisi Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS, namum tidak pernah ataupun berani Imam ALi atau pembelanya untuk  memposisikan Imam Ali sebagai Nabi. Lewat pemahaman ini  tentunya sebagai Muslim harus kita sikapi dengan baik Keberadaan Ahmadiyah ini. Pendiri Ahmadiyah yang mengaku Mahdi yang dijanjikan pun telah tiada tapi Dunia belum mengalami Kiamat dan Nabi Isa As pun belum menampakkan dirinya. Hal in tentu bertolak belakang dengan hadist Nabi yang mengatakan kalau di akhir zaman  Imam Mahdi dan Nabi Isa AS akan bersama-sama memerangi Dajjal. Jadi sebagai Muslim tentunya hal bodoh kalu mau mengikuti ajaran tersebut karena secara logika dan rasio tidak nyambung. Maka memang Fatwa MUI membubarkan Ahmadiyah adalah keputusan yang melalui pemikiran panjang dan mendalam akan akidah Islam. Dan adalah Blasphemy (tindakan penodaan atas ajaran agama) tindakan yang dilakukan Ahmadiyah. 

Apabila Ahmadiyah nantinya diperbolehkan keberadaanya maka akan makin banyak aliran lain yang meminta pengakuan di Negeri ini. Dan tidak hanya itu saja golongan yang memperjuangkan  orientasi seksual atau “gay” pun akan menuntut haknya sebagai Manusia yang bebas memilih orientasi seksualnya. 

Disinilah Ironi, Konsekuensi demokrasi yang menuntut kedewasaan Indonesia akan menyelami perbedaan yang ada dimana secara demokrasi adalah penting untuk setiap orang dapat mengutarakan pendapat, pandangan, dan keyakinannya tanpa mendapat tekanan orang lain. Tapi di sisi lain Agama adalah hal sacred yang dipegang teguh sampai titik darah penghabisan oleh mereka yang menjunjung tinggi agamanya. Akankah keduanya berjalan beriringan ? Atau apakah salah satu harus mengalah ? Problem ini yang harus dijawab oleh Indonesia sebagai Negara Kesatuan dan secara pribadi oleh setiap warga negara Indonesia. Whether we like it or not….  

Published in:  on June 9, 2008 at 2:30 am Comments (26)

The URI to TrackBack this entry is: http://alamprabu.wordpress.com/2008/06/09/irony-konsekuensi-demokrasi-dan-kesiapan-indonesia-studi-fpi-dan-ahmadiyah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

26 Comments Leave a comment.

  1. Djay, it’s been a while nih, sedih jg ya melihat kondisi bangsa sekarang, kalau gw melihatnya sekarang memang ada usaha2 untuk membuat negara ini jadi sekuler.
    I am not saying I support FPI atau Ahmadiyah atau malah AKKBB, I am just saying di suatu negeri yang dihuni mayoritas tertentu apabila ada minoritas melakukan sesuatu yang dinilai meresahkan masyarakatnya pasti akan ada gesekan, dan apabila gesekan semakin luas disinilah negara harus bertindak, harus dicari cara bagaimana meredam gesekan tersebut (dengan cara-cara yang bijak tentunya)
    bener bgt kata lo diatas kita harus dewasa menjalani demokrasi, Indonesia bukan Negara Islam, I agree with that, tapi mayoritasnya adalah umat Islam.
    to be honest Djay gw sedih bgt kalau ada orang komentar (especially orang Islam sendiri)si “dia” islam fundamentalis, si “dia” Islam garis keras, militan dan sebutan2 provokatif lainnya , mau dibawa kemana Indonesia.
    here is an interseting Blog for you to read
    http://www.nongmahmada.blogspot.com/
    .
    Djay gw percaya Demokrasi dan Islam bisa jalan bersamaan
    kalau Demokrasi itu fotonya maka Islam adalah bingkainya….ca ellah pake perumpamaan segala

  2. Itu dia yang di takutkan mayoritas umat itu Ji-koen…” Gua bisa mengerti sama tulisan “irony ini” kalo Ji koen mungkin kurang bisa menangkap kalo ..mayoritas umat tersebut yang di sentil di post ini. Siapkah mereka menjawab pertanyaan besar tersebut?

    Indonesia memang negara “demokrasi”. Kalo kebanyakan umat mau menerima itu saat demokrasi dan agama Clash berarti indonesia bisa berdemokrasi. Tapi disisi lain hal ini adalah seperti ticking time bomb yang bisa dipacu oleh event2 seperti di monas tersebut.

    Lagi pula siapa yang pertama menanamkan demokrasi yang tiada lain adalah bangsa barat ….
    mereka sudah mencuci otak kita dari gaya hidup, idologi sampe pelajaran2 disekolah dan kewajiban kita untuk bisa berfikir out of the box akan semua yang kita terima biar gak terus dibegoin cheers….

  3. well hagus, menurut gw bukan masalah umatnya sudah siap atau tidak ya, mayoritas umat Islam Indonesia cukup dewasa kok untuk menerima perbedaan keyakinan (bukan penodaan ya), jadi pemerintahnyalah yang harus arif, apabila ada hal-hal yang meresahkan masyarakat ya mbo cepat ditindak gitu.
    lets stop talking about umat Islam Indonesia tidak bisa menerima perbedaan atau tidak dewasa…kalau memang seperti itu Bung Hagus, maka sejak awal tidak akan ada negara Republik Indonesia, tidak akan ada Pancasila, Instead yang ada adalah piagam Jakarta dan Indonesia sebagai negara Islam

  4. hmmm….situasi yang serba sulit sih….dan ironi emang kata yang paling tepat untuk menggambarkan polemik ini..semoga sih ngga jadi berkepanjangan ya…btw bapak alam, setelah membaca berbagai tulisanmu, kayanya emang bapak ini pantes banget ya dapat scholarship…bravo ya pak… :-)

  5. WEl wel wel jadi seru nih cuma mo ngelurusin aja all i want to say is demokrasi pada akhirnya akan menjadi pertanyaan besar bagi Indonesia baik pemerintah, rakyat, umat siapa aja deh yang merasa indonesia.

    terutama mereka yang menjunjung tingi agamanya karena dalam agama Dogma atau firman itu gak bisa dilawan beda sama demokrasi dimana suara rakyat (terbanyak) adalah suara tuhan. Bisa saja seiring dengan perjalanan waktu suara rakyat lebih dominan seperti Ahmadiyah atau fenomena lain fine2 aja dan mereka yang memegang teguh “yang mereka yakini sebagai “Firman” akan mengambil jalan seperti yang mereka yakini daam setiap kitab suci mereka.

    Jadi alangkah bijaksananya kalo kita menyadari pertanyaan besar ini dengan berkaca pada diri sendiri dan lingkungan agar mampu bersikap arif apabila terjadi “the worst case scenario” peace yoo…
    n
    Thank u Gini ;)

  6. ha ha ha, I can’t be disagree with you Djay, siapa tahu 10-20 thn kedepan demokrasi sudah mulai usang dan ada paham baru yg lebih dinilai sesuai dengan zaman tersebut..we’ll never know……
    jadi seperti kata Aa *** intinya, mulailah dari diri sendiri

    Ps: Aa *** maksudnya Aa jay :)

    peace lah

  7. NAh akhirnya Ji-Koen ngerti juga maksudnya

    Moga-moga aja ya indonesia siap untuk menjawab pertanyaan ini

  8. Salam Brother Hagus, it least we have something in comment :) , I am just tryin to say kalau sebenarnya mayoritas rakyat Indonesia sudah siap untuk berdemokrasi, hanya saja apakah pemerintah kita sekarang sudah siap atau tidak?
    pengelolaan konflik yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula, karena dalam setiap negara pasti terdapat budaya, tradisi, habit, pola pikir dan kecenderungan yang berbeda-beda dari masing-masing komunitas didalamnya, tapi kalau sudah bicara mengenai Negara Indonesia, maka pemerintah harus bisa menyelaraskanya.

    btw Djay sorry g gak bisa dateng ke Popy’s wed

  9. Salam brother Ji-koen senang bisa diskusi sama anda yang punya concern sama bangsa kita ini. just adding its at least bukan it least hehehe. oh ya kalau anda bilang kalau sebenarnya mayoritas rakyat Indonesia sudah siap untuk berdemokrasi. saya sih gak bisa bantah itu tapi come on look around…. n belum ada pendataan pasti akan hal itu masih raba-raba aja. Pemerintah kita emang gak becus ya bener bgt tuh…. tapi pemerintah gak becus itu kan pengejawantahan masyarakat yang oon or taken for granted aja tanpa tahu secara mendalam kaya brother Ji-Koen ini hehehe peace bro

    Sorry ya mas Prabu jadi panjang nih

  10. Hehehe makin akrab aja nih be 2 get a room will ya hahahahahahha

  11. ha ha u sounds like many Indonesian I know Hagus, kata-kata anda semakin menunjukan siapa anda..no offense Bro,,but that’s you.
    contoh yg simple, di zaman kepemimpinan Nabi Muhammad, potensi konflik ini sangat-sangat besar, banyak masyarakatnya yang tidak terdidik dengan baik, perbedaan agama, suku, tradisi and many more, namun dibawah kepemimpinan beliau, hampir semua konflik dapat diselesaikan secara elegan tanpa ada pihak yang merasa dirugikan.
    seperti yang Bung Hagus bilang mungkin saya Oon or taken for granted…tapi saya percaya kalau semua peristiwa ini adalah proses ke arah yg lebih baik
    dan mudah-mudahan saya termasuk kedalam frase “these are the hand that build Indonesia” not America :) instead a smart ass diluar sana (I hope it’s not you Bro he he he )pissssseehhh

  12. huhehehe seperti gua bilang cocok emang loe be 2 get a room make love not war hahahaha

  13. ha ha ha , we’re not in Holland Bro
    lagian it’s not an act of war, it’s just an opinion, part of democrasy Djay, orang Oon and orang pinter boleh bicara :) he he he

  14. setujuh ……
    gak ada juga yang bilang thats an act of war bro hehe
    its just an expression doesnt mean the exact thing

  15. Sepertinya Brother Ji-koen salah membaca ya
    atau gua yang kurang titik koma hehehe

    “tapi pemerintah gak becus itu kan pengejawantahan masyarakat yang oon or taken for granted aja, tanpa tahu secara mendalam kaya brother Ji-Koen ini hehehe peace bro

    maksudnya andai masyarakat kaya bung Ji-koen yang tahu secara mendalam gitu jadi gak taken for grated or oon kaya kebanyakan

    hehehe sorry kalo salah memberikan makna pada anda anda

  16. huahahaha ternyata missunderstanding tadinya gua mikir yang sama gus kalo maksudnya bukan ke ji-koen tapi takut salah untung udah loe lurusin hahahaha

    meaning not in words but in people

  17. ha ha ha salam Hagus, fully understood kok meaningnya, I am just reffering kalau kita semua disini mungkin termasuk orang Oon dan taken for granted, karena kita juga berpartisipasi dalam terpilihnya pemerintah sekarang, however bukan berarti kita harus menjadi smart ass yang hanya bisa mengeluh dan mengkritik tanpa melihat secara keseluruhan suatu masalah dan jump into conclusion instead mari kita bersama menyelesaikn masalah, hopefully we are part of the hand that build Indonesia :) . pissssehhhh

  18. Duh Gusti,.. kok jadi saling lempar komen sindiran seehhh,…
    Nyadar ga seh kalo kalian kayak gini jadi komunitas yang ga beda ama yang kalian perbincangkan. Katanya bangsa Indonesia cinta damai, oioioi piss broo……….
    Al, ntar loe gue daptarin deh ke tim Provokator Konfrontasi Muslim Demokrat Indonesia (PKMDI).
    Alaaaaahhh………

    Gue mo kasi pendapat juga ahh…..

    Guys inget ga pendapat Greet Wilder kemarin yang menyebutkan Islam sebagai agama kekerasan dan Al-Quran sebagai kitab fasis. Dan keputusan pelarangan aktivitas Ahmadiah yang berdasarkan alasan perbedaan teologis ini pun nurut gue mengarah ke bentuk kekerasan dan fasisme yang berbasis agama juga. Yang pastinya dalam hal ini harus diingat juga tidak satu negara-pun sebenarnya berhak untuk intervensi ttg doktrin kebenaran suatu agama, dan itulah yang menyebabkan konfrontasi kmrn pecah. (CMIIW). Jadi seperti yang Al bilang, kalo pembubaran ahmadiah ini benar terjadi dan presiden menyetujui, waoowww… kita harus mikir ulang ya kalo milih presiden… hehe..

    Sedangkan berbicara demokrasi di kalangan muslim, itu bukan suatu hal yang mudah (soalnya ilmu gue belom nyampe sono euy :D ). Demokrasi adalah suatu yang universal yang bisa tumbuh dimanapun dan kapanpun. Masyarakat Indonesia yg ’grapyak’, hobi berjaringan dan suka berpartisipasi politik sebenernya cikal bakal budaya demokratis. Itulah kelebihannya, masyarakat Indonesia bisa menjadi masyarakat Islam yang sekaligus demokratis. Dunia Islam merupakan tambang emas kebangkitan agama (religiositas) setelah padamnya komunisme, tapi bagi kalangan tertentu kebangkitan agama adalah mimpi buruk bagi demokrasi. Dan sebenernya hal ini tidak akan menjadi persoalan jika agama tidak diposisikan sebagai lawan bagi demokrasi. Dan harapan kedepannya, kaum agamawan harusnya menjadi penggerak proses demokratisasi. Gimana???

    Salam buat Bro Ji Koen ama Bro Hagus, Ngopi dulu bro…

  19. weleh komen gue kok telat banget ya, udah baikan baru muncul jadi malu…
    kaburrrrrrrrrrrr………….

  20. ha ha ha…salam Bung Sal, soal pancingan Bung Al ini memang jagonya dari kuliah dulu :) ,
    ini bukan sindiran kok Bung, dan tidak ada yg perlu berbaikan…karena tidak ada yg marahan, consider this as the beauty of democrasy….we all should meet and ngopi bareng kapan2 nih, siapa tahu dari perbincangan yg kecil ini bisa kasih sumbangsih buat bangsa ini, bahkan mungkin buat dunia….loh loh loh!!!! bung Sal kok mabur sih? piyee?

  21. Al, terangin gue ke si ji koen dong Al, kok gue dipanggil Bung..
    *sambil sikut-sikut si Alam…*
    Gue mesti transgender nih kalo ngupi bareng??
    kabur lagi………….. (ini beneran, mau ngurusin gaji krn ga kelar2)

  22. Hehe Ji si Sal seorang Kartini bukan Bung

  23. ha ha ha…maap Bu Sal, ane pikir situ Bung, enggak harus transgender kok buat ngupi bareng, cukup si Al aja..he he he…oh situ ngurusin gaji ya? mang berapa gajinya si Al,,,,,pm private ke ane aja ya :) kkkkkkkk

    pissseehh

  24. Hueuehuheuh beda Perusahaan Ji si Sal M M mainya

  25. woiii….lam gila makin berbobot aja gumohan loe..bole bole…pendapat gue…democracy is nature..dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, pada saat semua kepentingan bergumul yah perlu ada kesepakatan untuk saling menghargai kepentingan masing-masing…so we can live in harmony..ya gak ? tapi tetep aja idealnya itu gak pernah ada dan gak pernah terwujud, konflik adalah hal yang tak terhindarkan kalau ada kepentingan yang bersinggungan. so, yang perlu diatur adalah cara menyikapinya.
    gue sih gampang aja, kayak makanan aja..kalau udah dinyatakan halal ya halal kalau haram ya haram..terserah orang donk masih mau makan atau tidak. baik buruknya akan dirasakan sendiri. bila kalangan komunitas memang ingin menjaga umat agar tidak terjerumus, ya kampanyekan saja…ajarkan secara intens dan merata (berjihad yang benar adalah mengajarkan ilmu pengetahuan) mana yang benar dan yang salah…gue yakin koq, kalau umat sudah tau salah benar, maka yang terjerumus bisa diminimalisasi. sekian. terimakasih

    dodi (s1 kom fisip ui)

  26. Welehhh,… kumpulan UI arisan…
    Hihihi… salam kenal ajahhh…
    Al, loe jangan buka kartu gue dimari yak..
    Minder gue… *wink-wink*


Leave a Comment